Kamis, 28 Januari 2010

Melihat Shalat Nabi



Melihat Shalat Nabi, adalah buku pertama dari trilogi Menuju Shalat Sempurna.

Sudahkah shalat dengan tata cara yang benar? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab “Ya”, apabila anda sudah pernah melihat Nabi dalam mengerjakan shalat. Sebagaimana sabda Nabi: “Shalatlah anda sebagaimana anda MELIHAT AKU SHALAT” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).

Sudahkah anda melihat Nabi shalat.......??? Sungguh, amat banyak di antara kita menjawab “Belum”. Termasuk juga anda, bukan?

“Melihat Aku Shalat ” dalam hadits di atas adalah Melihat Shalat Nabi. Agar dapat mengerjakan shalat dengan BENAR, seperti telah melihat Nabi SAW mengerjakan shalat.

Melihat Shalat Nabi , adalah melihat hadits tiap “Gerakan” dan “Bacaan” shalat yang dicontohkan Nabi. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui hadits Nabi tentang cara berdiri dalam shalat; hadits Nabi tentang cara mengangkat tangan saat takbir (arah telapak tangan, keadaan jari-jari, ketinggian telapak tangan); dan seluruh hadits gerakan shalat lainnya hingga akhir shalat.

Coba anda uji diri sendiri dengan satu pertanyaan saja: "Kemanakah arah jari-jari kaki dan arah telapak tangan pada saat takbiratul ikhram?"

Ingat, jawaban anda diragukan kebenarannya jika tidak berlandaskan hadits. Dapat dipastikan, jika anda belum pernah belajar shalat dengan benar (Melihat Shalat Nabi), pasti tata cara shalat anda masih banyak yang keliru. Jangan heran, kalau banyak orang yang merasa baru bangun dari tidur panjangnya selama ini setelah “Melihat Shalat Nabi”, karena selama ini mereka tidak sadar akan kesalahannya. Tata cara shalat mereka masih seperti yang mereka peroleh sejak kecil.

Ketahuilah, bahwa arah jari-jari kaki ketika berdiri dalam shalat adalah menghadap kiblat! Pada saat takbiratul ikhram, telapak tangan juga diarahkan ke kiblat. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi SAW (lihat haditsnya dalam buku). Coba anda perhatikan, berapa banyak kira-kira orang yang masih keliru dalam hal ini (jari kaki menghadap serong kiri & kanan, dan telapak tangan tidak ke arah kiblat)? Ternyata masih sangat banyak orang yang keliru, bukan? Apakah termasuk anda sendiri..? Penulis selalu menjumpai kekeliruan ini di mana-mana. Kenapa demikian, tidak lain karena mereka belum pernah melihat shalat Nabi. Itu baru takbiratul ikhram... permulaan shalat. Bagaimana dengan gerakan-gerakan shalat selanjutnya?

Buku Melihat Shalat Nabi Insya_allah menuntun kita ke arah shalat yang benar, sesuai yang Nabi contohkan. Sangat mudah dipahami karena menyajikan foto-foto gerak/posisi shalat yang benar dari mulai cara berdiri, takbiratul ikhram hingga salam. Masing-masing gerak dan posisi seluruh anggota tubuh dijelaskan berdasarkan hadits-hadits Nabi yang shahih, sehingga kita amat yakin akan kebenarannya. Juga dicantumkan macam-macam alternatif gerak yang pernah dicontohkan oleh Nabi. Buku ini juga mencantumkan seluruh bacaan shalat beserta artinya kata demi kata, agar makna shalat dapat dipahami lebih baik.

Waspadalah, shalat adalah perkara pertama yang dihisab di hari kebangkitan! “Barangsiapa yang baik (diterima) shalatnya, maka baik (diterima) pula segala amalan yang lain, dan barangsiapa yang rusak (ditolak) shalatnya, maka rusak (ditolak) pula segala amalan lainnya” (HR Thabarani).

Apakah cara shalat anda sudah dikalibrasi (dibandingkan) dengan shalat Nabi? Bagaimana kalau shalat anda ditolak karena tidak pernah belajar Shalat Nabi?

Dapatkan ebooknya di : http://shalatsempurna.com/?id=agy




bisnis e-miracle bersama esyariah.com


3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wr.wb.
    Kalau tidak salah ingat. Entah Hadits atau Hadits Khudsi atau Al Qur'an. tertulis "BAHWA SEMUA PERMUKAAN BUMI KECULAI DI WC / URINIOR ADALAH MASJID ALLAH". jadi berjamaah tidak harus selalu di "Masjid" Rumah kita pun kecuali WC/ Urinior sebenarnya masjid. Mengingat banyaknya aktifitas politik yg menggunakan "MASJID" sebagai basis politik maka peran masjid jadi seperti terkotori. Sebaiknya masjid bebas dari aktifitas politik untuk menggalang massa agar mau mendukung suatu partai tertentu.
    Wassalam.

    BalasHapus
  2. Ass.wrwb.'KECUALI D'WC & TEMPAT SAMPAH, istilah Kata "POLITIK" kalo pada Zaman Rasululloh SAW/ zaman Khalifah, aku ga tau, tp pasti ada, Pada zaman itu justru berundingnya d'balai masjid/d'masjid, Allohu 'a'lam, benar taw salah mhn koreksi, namun pd zaman itu benar2 memikirkan khablum minannis dan khablum minalloh, pd zaman itu pula para khalifah yg kebetulan ketiban sampur (amanan) ditunjuk sbg pimpinan berkata Innalillhi w inna.rj'un, mhn mf kl slh .........Wass.wrwb

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum warahmatullah

    "Maka dirikanlah shalat itu, sesungguhnya shalat itu adalah
    kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
    beriman." (An-Nisa': 103)

    "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." (HR. Al- Bukhari)

    "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang
    menyia-nyiakan shalat dan memperturut-kan hawa nafsunya, maka
    mereka kelak akan menemui kerugian." (Maryam: 59)

    "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit,
    maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu
    sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana
    saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya." (Al- Baqarah: 144)

    disini ana hanya menukilkan sedikit dari Al-Quran dan hadits dan masih banyak lagi hadits rasulullah shalallahu 'alahi wasallam berkenaan tentang sholat lihat SIFAT SHALAT NABI jilid 1-3 karya Syaikh Nassiruddin Al-Albani rahimahullah (semoga Allah merahmatinya)

    BalasHapus